Rasa Malu Sebahagian dari Iman.

Apabila seseorang telah memiliki ketiga unsur pokok agama sebagaimana diterangkan pada posting sebelumnya tentang iman, islam dan ihsan, maka dia akan merasa selalu menyakini adanya Allah SWT yang mengawasi dirinya, sehingga dia selalu melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangannya, hal ini akan terimplikasi dalam amal perbuatannya sehari-hari. Salah satu sifat yang muncul dari orang yang telah melaksanakan ketiga unsur tersebut, adalah sifat malu, sehingga Nabi Bersabda bahwa, iman mempunyai cabang sebanyak enam puluh sembilan cabang. Malu adalah merupakan satu dari cabang tersebut, sebagaimana hadis di bawah ini :
حديث ابى هريرة رضى الله عنه عن النبى صلى الله عليه و سلم قال: الايمان بضع و ستون شعبة والحياء شعبة من الايمان.[1]
Artinya : “Ab­­ Hurairah r.a, berkata ; Nabi Muhammad SAW bersabda : Iman itu enampuluh lebih cabangnya, sifat malu itu satu cabang dari iman”.
Menurut syara’ malu adalah :
خلق يبعث على اجتناب القبيح و يمنع من التقصير فى حق ذى الحق.
Artinya :”Sifat yang membangkitkan orang untuk menjauhi yang jelek dan tidak mau mengurangi hak orang lain”.
Malu adalah salah satu sikap yang merupakan refleksi dari adanya iman seseorang. Manusia diciptakan oleh Allah SWT lengkap dengan segala perangkatnya, yaitu manusia dianugerahi Allah dengan akal, pikiran dan nafsu. Dengan segala perangkat itulah manusia bisa bertindak dan berbuat di permukaan bumi. Akal akan berfungsi mengontrol apa yang diperbuat oleh anggota, dan nafsu membuat manusia untuk selalu hidup dinamis. Dengan adanya nafsu maka manusia itu akan terus berkembang dan maju. Lalu apabila nafsu dijadikan standar, maka yang diperbuat bisa lepas kendali. Bagi orang yang beriman akan merasa malu jika berbuat yang melanggar jalan yang sebenarnya. 
Sifat malu muncul dari bathin seseorang, maka dia termasuk salah satu dari cabang iman, sebab malu merupakan akhlaq yang memancar dari keimanan. Bila iman sudah kuat dan benar, maka seseorang akan malu untuk memperbuat kejahatan. Sekalipun malu itu sudah menjadi naluri manusia, tetapi supaya rasa malu tersebut sesuai dengan ketentuan agama, maka perlu diusahakan. Ini dilatarbelakangi malu merupakan sebagian dari iman dan merupakan hasil usaha. Dikatakan malu sebahagian dari iman, maksudnya adalah dengan rasa malu yang dimiliki bisa menghindarkan dirinya dari perbuatan dosa. Munculnya dosa karena iman tidak dapat menahan perbuatan yang salah. Perbuatan yang salah dikarenakan tidak ada rasa malu terhadap perbuatan yang salah dari aturan-aturan yang ditetapkan. 
Orang yang memiliki rasa malu tetap melaksanakan kewajiban dimanapun dia berada, karena rasa malu merupakan alat pengendali atau pembendung seseorang dari perbuatan yang merugikan bagi dirinya, atau keluarganya, masyarakat dan bangsa.


[1]  Muhammad Fuad Abd al-Baqi, al-Lu’lu wa al-Marjan, (Beiru­t : Maktabah al-Ilmiyah, T.th), juz . I, hlm.8

0 Response to "Rasa Malu Sebahagian dari Iman."

Post a Comment

Kritik dan sarannya dipersilahkan...! No pising, no spam, tidak singgung sara.... :)
"bagikan komentar berpahala, tidak berkomentar tidak berdosa."