Home » , , » Metodologi dan Tujuan Pencerahan Qalbu

Metodologi dan Tujuan Pencerahan Qalbu

Qalbu merupakan bagian yang mesti dijaga kebersihannya. Namun, apabila dilihat pada masa sekarang banyak manusia yang mengotori hatinya dengan kebusukan-kebusukan dan pikiran-pikiran yang kotor. Untuk itu, disini kita mencoba menuliskan beberapa cara untuk mencerahkan qalbu, disini akan disinggung mengenai tujuan pencerahan qalbu, dan semua itu akan kita simpul judul ”Metodologi dan Tujuan Pencerahan Qalbu”.
Disini akan dijelaskan bagaimana sebenarnya usaha-usaha yang terdapat dalam metode tersebut serta akan dimuat pula mengenai pengertian dari qalbu itu sendiri.

Daftar Isi:
1.Pengertian Qalbu
2.Eksistensi Qalbu pada Manusia
3.Metodologi Pencerahan Kalbu
4.Tertib Kiat Pencerahan Qalbu Bagi Kaum Sufi
5.Tertib Kiat Pencerahan Qalbu Versi Lain
6.Tujuan Pencerahan Qalbu

Pengertian Qalbu

Qalbu memiliki dua pengertian, yaitu:[1]
  • Qalbu yang diartikan sebagai segumpal daging yang memiliki bentuk kerucut, terletak didalam dada sebelah kiri dan berrongga mengandung darah dan merupakan sumber ruh.
  • Qalbu yang diartikan sebagai wadah menerima rahmat Allah, sifatnya spiritual.
Dari kedua pengertian diatas dapat kita ketahui qalbu memiliki dua pengertian yang sangat jelas perbedaannya, dan dari pengertian yang pertama menunjukkan bahwa qalbu itu merupakan wujud fisik yang bekerja di dalam tubuh manusia dan dapat dilihat keberadaannya. Sedangkan apabila dilihat dari pengertian yang kedua dapat diketahui bahwa qalbu itu diartikan sebagai bentuk yang abstrak, tidak dapat dilihat karena berhubungan dengan spiritual atau kebatinan.

Eksistensi Qalbu pada Manusia

Qalbu atau hati adalah pusat dari semua gerakan atau tingkah laku manusia. Hati yang bersih akan tercermin lewat akhlaq yang mulia, begitu pula sebaliknya, hati yang dikotori akan membuat seseorang melakukan akhlak yang tercela.
Qalbu atau hati memiliki tiga tingkatan, yaitu:[2]
  1. Hati yang suci
    Seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah semata. Cinta, benci maupun rindunya adalah karena Allah Swt. Orang yang hatinya bersih menjadikan Rasulullah sebagi model teladannya.
  2. Hati yang mati
    Hati yang mati tidak pernah mengenal Allah Penciptanya, tidak menyembah Allah, serta tidak mencintai-Nya. Jika ia mencinta maka cintanya karena hawa nafsu saja. Jika ia memberi, membernci, semuanya disebabkan hawa nafsu. Hati yang mati tidak mampu mendengar seruan Allah.
  3. Hati yang sakit
    Hati ini masih memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-beih penyakit. Beriman kepada Allah dan tawakkal adalah makanan yang akan menghidupkan hati yang dakit ini. Apabila lebih mengutamakan dunia dan cinta syahwat, tamak, dengki, takabbur, ujub, semua  itu adalah rukun yang dapat menghancurkan hati, insani, bahkan bisa mematikan hati.
Jadi, segala hal yang dilakukan oleh manusia, baik dan buruknya adalah cerminan dari hati.

Metodologi Pencerahan Qalbu

Dalam upaya pencerahan qalbu ada beberapa hal yang harus dijalani, dengan hati yang bersih maka wajahpun akan memancarkan kecerahan dan penuh keramahan.
Cerahnya qalbu dapat dicapai dengan menata hati dan mengisinya dengan keikhlasan. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai pencipta, ikhlas dalam arti bersih dari pamrih dan ria, ikhlas menjadikan Allah sebagai zat yang merupakan satu-satunya yang ditaati, dipatuhi, dicintai, dan ditakuti. Ikhlas menerima Muhammad SAW sebagai penjelas dan penyampai Kalam Allah dan ikhlas menerima Al-Qur’an sebagi pedoman dalam segala gerak kehidupan kita.[3]
Selain ikhlas, sukur juga merupakan salah satu cara untuk menyucikan hati. Dengan bersyukur maka seseorang akan terhindar dari sifat tamak. Banyak ata sedikitnya rezeki yang diberikan Allah diterima dengan rasa syukur. Ahli syukur yang sejati adalah ketika ia mendapat harta, kedudukan, ataupun gelar, ia hanya berfikir semua itu adalah karunia dari Allah yang diberi agar ia lebih dekat dengan-Nya, dan ia akan menggunakan karunia itu dengan benar agar berbuah berkah di jalan Allah. Selain itu kita juga harus bersyukur kepada manusia.[4]
Cara lain untuk membersihkan atau mencerhakan qalbu adalah dengan bersabar. Sabar ketika mendapat bala, musibah, atau cobaan. Sabar adalah kunci dari kedekatan kita kepada Allah. Setelah bersabar, agar hati bersih maka hendaklah kita menjaga pandangan, karena pandangan adalah jalan termudah bagi syaitan untuk menjerumuskan manusia kelembah dosa. Dengan pandangan sesorang lebih mudah terjerumus dan melakukan perbuatan maksiat.[5]
Untuk mengaplikasikan pencerahan qalbu, maka metode yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:[6]

Berwudhu

Dengan berwudhu maka dosa-dosa yang terdapat pada anggota wudhu tersebut akan terhapus.
Setelah selesai Wudhu, mengucap kalimat syahadat, dan membaca do’a:
”Aku bersaksi bahwa tidak ada zat yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam orang-orang yang senantiasa bertobat kepada-Mu, dan jadikan aku termasuk ke dalam orang-orang yang menyucikan dan membersihkan diri, dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan hamba yang saleh dan tidak punya kekhawatiran serta bersedih hati.”
Setelah itu berdiri, dan setelah meminum sedikit air wudhu, kemudian berdo'a lagi, dengan ucapan.
”Ya Allah, obati aku dengan obat-Mu, sembuhkan aku dengan penyembuhan-Mu, dan lindungi aku dari kelemahan, penyakit, derita, dan kesengsaraan.”
Melakukan shalat dua rakaat, ketika melakukan shalat ini kita harus memusatkan perhatian untuk mendekatkan diri pada Allah.
Sebelum berangkat tidur hendaklah duduk menghadap kiblat dengan membaca ayat al-Kursy dan Q.S. Al-Baqarah : 285-286, lalu meniup telapak tangannya kemudian mengusapkannya ke seluruh anggota tubuh dengan membaca do’a ”Aku memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosaku” sebanyak tiga kali.

Sering melakukan shalat malam

Mengucap Istigfar 100 kali,
Menunaikan shalat malam yang terdiri dari 12 rakaat. Jika tidak punya waktu maka delapan, empat, atau dua rakaat.
Memperbanyak dzikir, dan untuk mencerahkan qalbu mestilah membaca do’a sebanyak 40 kali, yang berbunyi:
”Ya Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Pencipta segenap langit dan bumi, pemilik keagungan, kemurahan, dan kemuliaan; tidak ada zat yang layak dan pantas disembah selain-Mu. Aku mohon agar menghidupkan hatiku dengan cahaya pengetahuan-Mu terus menerus, Ya Allah, Allah, Allah.”
Dzikir adalah kunci ketenangan hati, hal ini sesuai dengan firman Allah QS. Al-Rad ayat 28:
(أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ(٢٨
”Ingatlah, hanya dengan dzikir (mengingat Allah) hati akan tentram.”[7]
Dzikir tidak hanya dilakukan ketika mendapat kesusahan saja, melainkan setiap saat baik semangat maupun susah hendaklah terus berdzikir demi ketenangan hati.
Seorang yang ahli dzikir akan menjadi manusia yang pemberani, karena orang yang ahli dzikir hanya akan takut kepada Allah. Sedangkan yang selain Allah baik itu binatang buas, syaitan, atau yang menakutkan lainnya merasa tidak takut.
Untuk itu diperlukan banyak berdzikir agar hidup menjadi tentram serta lupa memperbanyak sabar dan syukur, karena dengan hati yang tenang maka akan lebih banyak dan tentram pula dalam menjalankan ibadah.

Tertib Kiat Pencerahan Qalbu Bagi Kaum Sufi

Bagi kaum sufi, ada beberapa kita ang dilakukan yang apabila diamalkan akan membuka hati dan mencerahkan jiwa menuju kesucian, antara lain:[8]

Taubat

Segala yang diperbuat berupa kesalahan dan dosa di insyafi dengan setulus hati. Taubat yang dimaksud adalah taubat yang sungguh-sungguh dengan tidak mengulangi dosa itu kembali.
Qanaah, yaitu perasaan rela terhadap pemberian yang sedikit.
Dengan qana’ah maka seseorang akan dapat bersyukur terhadap apa yang didapnya dan terhindar dari sifat rakus dan ingkar. Adanya qana’a dalam diri akan menambah kedekatan kita kepada Allah SWT.
Zuhud, yaitu berpaling dari mencintai sesuatu menuju sesuatu yang lebih baik yang pertama dicintai.
Maksudnya adalah berpaling dari mencintai secara berlebihan terhadap yang bersifat keduniaan dan terus memperdalam rasa cinta terhadapAllah yang merupakan zat yang pertama dicintai, karena Allah-lah cinta pertama semua makhluk sedari manusia itu berada di alam azali (kandungan).
Mempelajari syari’at, antara lain mengatur ibadah, meluruskan aqidah, dan membersihkan hati. Dengan demikian maka saat dimana harus memberi waktu untuk menganbdi kepada Allah akan teratur dan lebih khusyuk dalam melaksanakan amalan-amalan itu sendiri.

Memelihara amalan sunnah

Dengan tetap melaksanakan amalan-amalan sunnah maka kesempurnaan ibadah akan didapat karena dengan melaksanakan amalan sunnah maka ibadah tersebut akan memiliki nilai tambah disisi Allah.

Tawakkal

Tawakkal melindungi manusia dari sifat berputus asa dan takabbur. Dengan berserah diri kepada Allah atas usaha yang dilakukan maka manusia dapat menjaga hati dengan tenang dan menerima kehendak Allah swt.

Ikhlas

Manusia akan terhindar dari sifat mengumpat dan iri hati dengan memiliki perasaan ikhlas yang berarti menerima kehendak Allah dengan hati yang tulus.

Uzlah, yaitu menyendiri dari kehidupan sesama manusia

Karena dengan uzlah tersebut kita dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk tanpa ada kebisingan yang mengganggu konsentrasi dalam beribadah.
Hati yang suci akan menghantar manusia untuk dpaat lebih dekat kepada Allah Swt segala ibadah yang dilakukan diawali dengan taubat dan niat tulus.
Taubat ialah kembali ke jalan hidup yang diridhai Allah Swt yaitu dengan menginsyafi dan menyesali segala perbuatan keji yang telah terlanjur dilakukan, lau sadar dan memohon ampunan dan memperbaiki cara hidup dengan ajaran Allah dan Rasulnya serta berjanji tidak mengulangnya lagi.[9]

Tertib Kiat Pencerahan Qalbu Lain

Cara penyucian jiwa dapat dilakukan dengan cara berikut:[10]
  • Ikhlas
    Ikhlas diartikan dengan ”bening”, ”murni”, segala noda hilang darinya. Orang yang ikhlas tidak menaati hawa nafsunya sama sekali bahkan memberontaknya.
  • Ghirah
    Ghirah yaitu cemburu, bisa diartikan sebagai ”mencegah”. Ghirah adalah sebuah fitrah dari Alah. Berarti, manuisa harus mencegah dirinya dari perbuatan keji yang mengurangi kebaikan dalam dirinya.
  • Membaca al-Qur’an
  • Zikir kepada Allah
  • Zuhud
  • Rahmad
  • Qanaah
  • Santun
  • Tawadhu (rendah hati)

Tujuan Pencerahan Qalbu

Qalbu merupakan bagian yang harus dibersihkan dan dicerahkan, karena qalbu sangat berperan dalam menentukan akhlaq dan kedekatan manusia dengan sang pencipta yaitu Allah Swt.
Tujuan dari pencerahan qalbu hanyalah satu yang paling utama. Tetapi dari yang utama tersebut akan didapatkan pula kebahagiaan yang lain.
Pencerahan qalbu yang dilakukan dengan berbagai metode yang telah dijelaskan sebelumnya akan memberi faedah dan manfaat luar biasa bagi kita.
Pencerhan qalbu berarti membersihkan hati dalam hal kecintaan terhadap dunia. Orang yang hatinya kosong akan kecintaan dunia akan terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah, dan orang yang peroleh kesenangan dengan merenungkan Allah bisa rendah hati dan menyebut dirinya miskin dan dalam pandangannya yang dituju hanyalah Allah Swt.[11]
Dengan demikian maka dengan adanya pencerahan qalbu maka dalam diri manusia akan terdapat penawar jiwa dan fikiran. Manusia akan memiliki ketenangan jiwa adalah iman yang murni kemudian menjadi suatu amaliyah dalam kehidupan sehari-hari.
Hati akan tenang apabila hati itu suci dan cerah. Ada beberapa ciri hati yang sehat, yaitu:[12]


[1] Mir Valiuddin, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1997) hal.61
[2] Muhammad Isa Selamat, Penawar Jiwa dan Pikiran, (Jakarta : Kalam Mulia, 2001), hlm. 52-54
[3] Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati dengan Management Qalbu, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 30-31.
[4] Ibid., hlm. 35
[5] Ibid., hlm. 43
[6] Mir Valiuddin, Op. Cit., hlm. 106
[7] Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qalbu, (Jakarta: Gema Insani, 2002) hal. 130
[8] Sayyid Abi Abakar dan Ibu Muhammad Syatha, Missi Suci Para Sufi, (Yogyakarta: mItra Pustaka, 2002) hal. 37
[9] Mawardi Labay El-Sulthani, Taubat Menghapus Dosa, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2001), hlm. 84             
[10] Abdul Qadir Abu Faris, Menyucikan Jiwa, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm
[11] Mir Valiuddin, Op. Cit. hal 64
[12] Muhammad Isa Selamat, Op. Cit., hlm. 48
Bagikan Topik ini:

0 komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan sarannya dipersilahkan...! No pising, no spam, no sara.... :)
"bagikan komentar berpahala, tidak berkomentar tidak berdosa."